Aku terengah. Mengelap peluh yang membanjiri wajah dan seluruh tubuhku. Aku menatap Dean yang bersandar di ujung ranjang. Kami bertukar senyum puas.
“You’re great Hun,” katanya. Aku menyentuh tangannya. Jemari kita bertaut. Dean mengisyaratkan untukku mendekat. Sekejap aku berada dalam pelukannya. Hangat. Lelaki kecil dengan tenaga besar. Lelaki kecil dengan gairah besar. Lelaki kecil dengan kehebatannya. Memikatnya. Menyeretku dalam rasa yang luar biasa.
Ini adalah pertemuan kami yang kesekian kalinya. Tak terasa enam bulan sudah berlalu dari pertemuan hari Sabtu di Dunkin itu.
“Minum, Sayang?” Dean meraih mineral water disandingnya. Kami berbagi tegukan. Dean membelai lembut rambutku. Aku mengerang keenakan. He’s great on everything he done to me.
“Sttt,” katanya.
“Kenapa?” heranku.
“Eranganmu bikin aku horny,” kali ini Dean membali tubuhnya yang seksi menghadapku. Kami masih dalam kepolosan tanpa pakaian.
Uhm, aku mau ceritakan ini. Dean itu tubuhnya kecil, tapi seksi. Uhm, bagaimana ya menjelaskannya. Karena selama ini tubuh setinggi 170 adalah yang ideal menurutku. Okay. Dean mungkin hanya sekitar 162an. Kecil, untuk ukuran lelaki. Tapi dia punya six pack. Tidak terlalu tampak. Tapi terasa saat dia memeluk, meregangkan tubuhnya di atasku. Dan ternyata aku salah menilai wajahnya yang HANYA 8. Naik satu tingkat : 9 deh !!!
Kulitnya bersih. Tak terlalu putih, tapi juga tidak hitam. Bersih. Hidungnya tinggi, matanya bulat dan bening. Ada luka di sudut mata kirinya. Tipis. Tapi aku bisa melihatnya saat kami berbaring berdampingan sedekat ini. Bibirnya lembut dan kenyal saat dikulum.
“Why are you staring at me?” Dean menyentuh daguku. Aku tertawa kecil. Dean mengecup bibirku lembut dan aku balas dengan panas. Aku suka desahan Dean saat aku melumat bibirnya. Suara hmmm ehmmmm-nya bikin gairahku langsung naik. Tangan Dean menggerayang dan meremas lembut dadaku. Kali ini aku yang menggeram keenakan. Jemarinya lembut memainkan ujung dadaku. Memilin dan menyentilnya membuatku tubuhku menggelinjang tak terkendali. Dean makin menggeram saat bibirku lepas dan kembali dipagutnya.
“Want more, Hun?” bisik Dean. Aku mengangguk malu. Mengingat baru beberapa menit yang lalu Dean memberiku kepuasan yang kami nikmati berdua.
“Oooh, you’re so hotty notty, Baby,” kata Dean sambil membaringkan tubuhku dan mulai menciumi dadaku. Aku menggeliat kegelian dan keenakan. Dean membiarkan lidahnya bermain-main di ujung dadaku. Tubuhku meregang dan juga mulai kurasakan teman kecil di bawah sana menegang menyentuh miss cheerful-ku.
Dean menjelajahi leherku dengan ciumannya yang hangat sambil tangannya masih meremas dadaku dengan lembut. Tanganku kiriku meremas punggungnya dan tangan kananku meraih teman kecil di bawah sana dan aku arahkan ke miss cheerfulku.
“Hmmmmmmmm,” aku mengerang ketika tubuh kami menyatu. “Deee,” erangku ditelinga Dean yang membuat Dean makin mengeratkan tubuhnya ke tubuhku. Kami bercinta hebat. Eranganku. Teriakanku. Desahanku. Membuat Dean makin gencar.
“Deeean, aku hampir sampai,” jeritku.
“Coming, Baby, nikmati, Baby,” Dean masih memacu tubuhnya. Aku menggelepar dalam nuansa kenikmatan. Aku menggeliat tak terkendali. Dean membuatku melayang ke langit tujuh.
“Deeeaaaaaaaaan,” aku mengerang di puncak kenikmatan. Dean memeluk tubuhku erat. Sangat erat. Saat aku mendapatkan kepuasanku. Sedetik. Lima detik. Dean membiarkanku menikmati puncak kepuasan.
“I love you, Baby,” bisiknya.
“I love you too, Hun,” bisikku ditengah erangan.
“Want more, Baby?” bisiknya.
“Yeaaah!!!” aku meremas bahunya.
Dean kembali memacu tubuhnya atasku. Aku kembali dipacu gairah yang memabukkan. Dean hebat. Dia tahu bagaimana memacu dan mengendalikan aku. Dia sangat tahu posisi yang aku senangi. Dia betul-betul tahu dimana titik yang tepat untuk disentuh. He’s really great on pressing on the right button !!!
“Aaarrrrghhhh.”
“Deaaaaaaaaaaaan.”
Teriakan kami bersamaan mengakhiri aktivitas bercinta kami. Kami kembali berpelukan dalam tubuh yang basah karena keringat. Dean membelai lembut rambutku.
“De, sakit?” tanyaku. Dean menatapku bingung. Sakit? Bukannya enak? Mungkin begitu tanyanya. “Aku mencakar punggungmu,” sahutku malu. Dean tertawa lunak.
“I’m dying love it much. Do it again on next make love, Baby,” katanya sambil memagut bibirku lembut. “Clean up my self,” katanya lalu meninggalkanku menuju bathroom.
“Menyusul, nanti sebentar lagi” kataku lirih. Masih pengen malas-malasan di ranjang. Menikmati gairah yang menurun dari puncaknya.
“Baby, mandi bareng yuuuk !!!” teriak Dean dari bathroom.
“COOMIIIIIIIIIIING!!!” bye bye malas-malasan. My hunny hubby to be menunggu. Aku meninggalkan sprei yang basah oleh keringat kami dan menyusul Dean.
I love MY Dean.

1 comment so far ↓
speechless bacanya…
Leave a Comment